Aku bukan lagi berang-berang.
Bukan pula seorang pemimpi lagi.
Aku berhenti mengandaikan diri bercita-cita jadi seorang
malaikat.
Aku adalah imigran di bawah matahari tua ini.
Akulah senja yang selalu merah.
Aku kelopak teratai yang terakhir jatuh di danau-danau
kosong.
Aku tahu, ada selubung di atas kulit kita.
Ada kata-kata yang tak butuh penjelasan.
Mengalir begitu saja seperti halnya perasaan.
Layaknya kegelisahan perempuan
muda di sebuah peron, berharap muncul satu wajah lahir dari kenangan yang
dipikulnya terus-menerus. Energi itu hinggap begitu saja, seperti jaring di ujung
kaki laba-laba kesepian. Seperti debu yang menempel di tepian frame bergambar,
yang selalu dipandangi ibu.
Aku banyak tak mengerti susunan
kejadian yang aku jumpai, pun rasa yang tak menyamankan hatiku. Masalah itu tak
bernama. Aku pun tak tahu pantas menyebutnya apa.
Tuhanku, bantulah aku menghadapi
sesuatu yang tak bernama tadi.
Bantulah kami.
Amien.

Comments
Post a Comment