Skip to main content

Posts

Alanis Morissette-Utopia

we'd gather around all in a room fasten our belts engage in dialogue we'd all slow down rest without guilt not lie without fear disagree sans judgement we would stay and respond and expand and include and allow and forgive and enjoy and evolve and discern and inquire and accept and admit and divulge and open and reach out and speak up This is utopia this is my utopia This is my ideal my end in sight Utopia this is my utopia This is my nirvana My ultimate we'd open our arms we'd all jump in we'd all coast down into safety nets we would share and listen and support and welcome be propelled by passion not invest in outcomes we would breathe and be charmed and amused by difference  be gentle and make room for every emotion we'd provide forums we'd all speak out we'd all be heard we'd all feel seen we'd rise post-obstacle more defined more grateful we would heal be humbled  and be unstoppable we'd hold close and let go and know when to do which ...
Recent posts

Cukup!

cukup. pergilah di awal Oktober ini. mari akhiri hubungan klasik ini. hubungan cinta dan benci. biarkan saya menjamamu selayaknya apa yang terjadi pada manusia kebanyakan. aku sepakat untuk menjadi begitu main stream . seperti orang-orang lainnya. selamat tinggal insomnia.

(Saya dan) Mother Theresa

jika kamu baca judul ini, mungkin kamu anggap saya kurang sopan karena berani mencantumkan diri (ke-aku-an) saya dengan sosok yang luar biasa gemilang. saya hanya gatal ingin bercerita soal apa yang berkelindan di kepala saya. lagipula, sangat mengkultuskan seseorang bukankah tidak terlalu berlebihan. lagipula beliau juga manusia biasa. saya mencoba berusaha melihatnya lebih dekat. tanpa jarak. Saya ingat di buku terakhir yang saya baca tentang SQ, mother Theresa berkata: Orang kerap kali tak bernalar, tak logis, dan egois. Biar begitu, maafkanlah mereka. Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif yang egois. Biar begitu, tetaplah bersikap baik. Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati. Biar begitu, tetaplah meraih sukses. Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu. Biar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang Apa yang engkau bangun selama bertahu...

"Why Am I The One" by FUN

I got enough on my mind That when she pulls me by the hair, She hasn't much to hold onto. She keeping count on her hand: One, two, three days that I've been sleeping on my side. I finish kissing my death, So now I head back up the steps Thinking about where I've been. I mean the sun was never like this. I wanna feel with the seasons. I guess it makes sense. 'Cause my life's become as vapid as A night out in Los Angeles, And I just wanna stay in bed and hold you like I used to. You know that I am home. So, darling, if you love me, Would you let me know? Or go on, go on, go on, if you were thinking that the worst is yet to come Why am I the one always packing up my stuff? For once, for once, for once I get the feeling that I'm right where I belong. Why am I the one always packing up my stuff? She got enough on her mind That she feel no sorrow. I let my fate fill the air, So now she rolling down the window. Never been one to hold on But I need a last breath. So I...

Pernah

Pernah suatu ketika. Malam tiba, suami-suami pulang ke rumahnya. Istri-istri mengelap bersih keringatnya. Anak-anak remaja mulai ke luar malam, dan seorang mudi tengah berjalan lurus sambil berderai—air mata. Di sepanjang jalan rumah seorang teman, jejaknya beku, angin malam masih tercium. Batari mengetuk pintu gompal temannya. Kata-katanya lemah. Temannya pasti bingung, pada saat itu Batari tidak mengucapkan apa-apa. Wajahnya pucat, nampak air muka yang dingin disambut air asin dan tak lagi malu pamer kehadirannya. Dia ingin menahannya tapi organ tubuhnya belum sekuat hatinya. Terkutuklah para penjahat rasa.  “Sungguh akanku bunuh labirin itu,” Batari membenci ingus-ingus yang keluar tak beraturan. Terlebih ia sangat bosan memaafkan. Batari pun terlelap. Seketika aku pun lenyap.

Harpa Biru Kimi

A nalogi berputar-putar dalam lingkaran di atas kepala. Hei,tetapi si empunya kepala itu bukan malaikat, dan ini bukan kartun. Entah apa namanya. Batasan pandangan padaku lebih putih dari tampilan yang mengisinya. Semacam efek bloom dalam P hotoscape. Tubuh itu duduk santai di atas kursi kuningan bergaya konservatif khas Eropa. Matanya terpejam, tapi bibir merahnya tersenyum. Indah. Satu kakinya menjuntai ke bawah, bersilang dengan pasangannya yang lurus simetris dengan kursi tadi. Tangan putihnya memegang alat yang lebih kuning dibanding bangku yang dipantatinya. Tinggi benda itu tak melebihi dagunya. Ya, aku pernah melihat orang yang memainkannya di sebuah orchestra kesukaanku. Tapi telinga, mata dan dadaku lebih takjub melihat ia dimainkan olehnya. British Orchestra tak sebanding sama sekali dengan pertunjukkan maha dasyat ini. Jemarinya langsing dan runcing. Ujung-ujungnya bersinar kekuning-kuningan. Seluruh tepi badannya seperti dilapisi border ...

Rahasia Mayang

H ari itu kisruh dengan debu dan pasir proyek jalan tol baru. Terinspirasi oleh realitas kekinian. Tak bisa dihindari, apa lagi dilipat dan dibawa pulang. Kau tak akan senang. aku terpejam—Mayang, akhirnya datang—juga .  Debu jalan raya masih menempel di wajah Mayang. Tas punggung ia taruh di bangku kayu, tempatnya biasa duduk dan menulis. Rok putihnya tak berwarna seperti sewajarnya. Seperti biasa bagian belakang rok sepanjang dengkul itu dibubuhinya warna yang lebih gelap. Coklat, bekas tanah atau apa pun itu yang menjadi alas duduknya. Ia memang agak malas untuk berdiri lama. Bukan karena ia lelah, tapi ia hanya muak pada formalitas. Yang semu, dan dangkal. Senin, bukanlah hari yang menyenangkan bagi Mayang Ugandi. Duduk di bangku sebelas sekolah menengah atas di bilangan Kedoya, Ia diam-diam mengumpat di balik kemaskulianannya sebagai perempuan. Tiap bel senin pagi berbunyi, spontan pikirannya menyerukan aliran darah hingga sirkulasi pernafasannya untuk tetap tenang...