Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

"Why Am I The One" by FUN

I got enough on my mind That when she pulls me by the hair, She hasn't much to hold onto. She keeping count on her hand: One, two, three days that I've been sleeping on my side. I finish kissing my death, So now I head back up the steps Thinking about where I've been. I mean the sun was never like this. I wanna feel with the seasons. I guess it makes sense. 'Cause my life's become as vapid as A night out in Los Angeles, And I just wanna stay in bed and hold you like I used to. You know that I am home. So, darling, if you love me, Would you let me know? Or go on, go on, go on, if you were thinking that the worst is yet to come Why am I the one always packing up my stuff? For once, for once, for once I get the feeling that I'm right where I belong. Why am I the one always packing up my stuff? She got enough on her mind That she feel no sorrow. I let my fate fill the air, So now she rolling down the window. Never been one to hold on But I need a last breath. So I...

Pernah

Pernah suatu ketika. Malam tiba, suami-suami pulang ke rumahnya. Istri-istri mengelap bersih keringatnya. Anak-anak remaja mulai ke luar malam, dan seorang mudi tengah berjalan lurus sambil berderai—air mata. Di sepanjang jalan rumah seorang teman, jejaknya beku, angin malam masih tercium. Batari mengetuk pintu gompal temannya. Kata-katanya lemah. Temannya pasti bingung, pada saat itu Batari tidak mengucapkan apa-apa. Wajahnya pucat, nampak air muka yang dingin disambut air asin dan tak lagi malu pamer kehadirannya. Dia ingin menahannya tapi organ tubuhnya belum sekuat hatinya. Terkutuklah para penjahat rasa.  “Sungguh akanku bunuh labirin itu,” Batari membenci ingus-ingus yang keluar tak beraturan. Terlebih ia sangat bosan memaafkan. Batari pun terlelap. Seketika aku pun lenyap.

Harpa Biru Kimi

A nalogi berputar-putar dalam lingkaran di atas kepala. Hei,tetapi si empunya kepala itu bukan malaikat, dan ini bukan kartun. Entah apa namanya. Batasan pandangan padaku lebih putih dari tampilan yang mengisinya. Semacam efek bloom dalam P hotoscape. Tubuh itu duduk santai di atas kursi kuningan bergaya konservatif khas Eropa. Matanya terpejam, tapi bibir merahnya tersenyum. Indah. Satu kakinya menjuntai ke bawah, bersilang dengan pasangannya yang lurus simetris dengan kursi tadi. Tangan putihnya memegang alat yang lebih kuning dibanding bangku yang dipantatinya. Tinggi benda itu tak melebihi dagunya. Ya, aku pernah melihat orang yang memainkannya di sebuah orchestra kesukaanku. Tapi telinga, mata dan dadaku lebih takjub melihat ia dimainkan olehnya. British Orchestra tak sebanding sama sekali dengan pertunjukkan maha dasyat ini. Jemarinya langsing dan runcing. Ujung-ujungnya bersinar kekuning-kuningan. Seluruh tepi badannya seperti dilapisi border ...

Rahasia Mayang

H ari itu kisruh dengan debu dan pasir proyek jalan tol baru. Terinspirasi oleh realitas kekinian. Tak bisa dihindari, apa lagi dilipat dan dibawa pulang. Kau tak akan senang. aku terpejam—Mayang, akhirnya datang—juga .  Debu jalan raya masih menempel di wajah Mayang. Tas punggung ia taruh di bangku kayu, tempatnya biasa duduk dan menulis. Rok putihnya tak berwarna seperti sewajarnya. Seperti biasa bagian belakang rok sepanjang dengkul itu dibubuhinya warna yang lebih gelap. Coklat, bekas tanah atau apa pun itu yang menjadi alas duduknya. Ia memang agak malas untuk berdiri lama. Bukan karena ia lelah, tapi ia hanya muak pada formalitas. Yang semu, dan dangkal. Senin, bukanlah hari yang menyenangkan bagi Mayang Ugandi. Duduk di bangku sebelas sekolah menengah atas di bilangan Kedoya, Ia diam-diam mengumpat di balik kemaskulianannya sebagai perempuan. Tiap bel senin pagi berbunyi, spontan pikirannya menyerukan aliran darah hingga sirkulasi pernafasannya untuk tetap tenang...

ANGGAP SAJA AKU PEDULI

Mengapa kau banyak menangis akhir-akhir ini, kak? Mukamu sembab, kamu tak sigap. Tangismu juga gagap. Semoga bukan karena aku. Aku tak mengerti, kau tak pernah bercerita padaku soal domestikmu. Ah, pernah, dulu sekali, lama sekali. Jujur saja, aku tak begitu menyukai kekasihmu yang terlampau angkuh dan berhati majal. Semoga aku salah. Tapi sungguh kamu terlihat jauh lebih cantik bila tersenyum. Kamu adalah satu-satunya kakakku yang bertengkar dengan cara yang paling sopan. Kami hanya tahu kamu menangis gagap saja. Itu saja, kamu tak memberikan kesempatan pada dirimu sendiri untuk bercerita dan melapangkan hatimu. Oh mungkin kau punya cara lain yang melapangkanmu. Apakah dengan sembahyang? Aku penasaran. Kau tak begitu dekat dengan teman-temanmu semenjak menikah. Main ke rumah teman pun tidak. Punya sosial media apalagi. Kamu memilih begitu tertutup. Apa enaknya sih jadi diri yang murung begitu, kak? Kamu tidur saat aku menulis ini. tulisan ini juga tak akan aku sampaikan padamu. ...