PADAM
--Syafrudin
RUMAH masih remang, tinggal bayangan ringkih dan
muram kecoklatan di dinding rotan berkelir rembesan hujan. Bapak sudah tidak
pernah pulang barang semalam. Untunglah masih ada sisa lilin kemarin. Ibu tidur
menyusui Atika, adik bungsuku. Tinggallah aku mengganti tugas bapak. Menjaga
ibu dan adik dari serangan nyamuk sawah yang tak pernah kehilangan akal
memborbardir tubuh kering kami. Sebenarnya, kami tipe manusia kebal. Kebal pada
gigitan nyamuk sawah yang umumnya dua kali lebih besar dibanding nyamuk
rumahan. Tapi aku tak tega melihat esok paginya tubuh adik kecil dan ibu merah
dan menyisakan koreng-koreng kecil. Luka yang tak sadar dibuat ketika tidur.
Seperti seorang bijak bilang—garuklah gatalmu sendiri. Keluargaku menjalani
diktum itu.
Air panas lilin jatuh pelan-pelan. Dengan
telunjukku, aku senang sekali merasakan panas cairan lilin. Panas yang
bersahabat, tak lama ia akan mengering. Melapisi kulit tanganku.
Lalu aku membersihkan dan mengupasnya, membayangkan
itu adalah gula halus yang biasa dijilat anak-anak sekolah di jam istirahat.
Donat polos dengan gula halus. Ah sial! Aku lapar sekali. Jangankan donatnya,
sisa plastik yang berserakan atasnya pun aku mau.
Hujan semakin galak.
Lampu rumah kami akhir-akhir ini sering mati. Ibu
tidak sepandai bapak membetulkan hal-hal maskulin seperti ini. aku pun pernah
kena setrum beberapa kali, hingga ibu tidak tega menyuruhku memeriksa kabel
listrik suntikan.
Rumah di pinggir sawah, kadang aku senang kadang aku
sebal menyadarinya.
Aku senang, pagi dan senja di depan rumah tak pernah
mengecewakanku. Aku suka menulis seharian kegiatanku di buku catatan kumal. Oh
sungguh aku menyukai ini. rasanya seperti kenyang dengan makanan kesukaan dan
tahu kau masih punya satu juta donat gula di kulkas-kulkas besarmu. Tapi jika
adikku muntah dan menangis meraung-raung, aku sangat membenci itu. Ibu pulang
sehabis ashar, sedang di sawah orang-orang sudah kembali ke rumah
masing-masing. Aku sebisa mungkin menggendong Atika. Meminuminya air putih dari
teko. Biasanya, Atika akan capek dan tidur pulas. Aku tahu dia lapar. Aku juga
dik. Sabarlah.
Ibu pulang membawa dua bungkus nasi dari majikannya.
Biasanya kami membaginya dengan baik. Aku hafal
betul, setengah nasi putih itu jatahku, dan putih telor rebus juga akan
berlenggaklenggok di perut kurusku. Setengahnya jatah ibu dan nasi itu buat ia
dan adik. Satu nasi lagi untuk besok paginya. Tanpa lauk.
Lilin makin tipis dan ayah juga belum pulang.
Sebelum padam, aku punya ritual. Aku akan memanggil bapak dalam hati sepuluh
kali. Kenapa sepuluh? Gampang saja, bukankah di sekolah sepuluh adalah bilangan
sempurna.
Siapa yang tidak mau dapat sepuluh?
Jadi aku memanggil sekaligus berdoa, agar bapak
pulang.
Terakhir aku melihat bapak pergi membawa helm
karatan dari sela meja kayu. Ibu saat itu sudah pergi ke rumah majikannya. Ya
majikan, ibu bilang kerjanya mencuci baju dan menyetrika pakaian. Ya aku di
rumah menjaga Atika. Harusnya aku main layangan dengan Kasim atau Seno.
Sudahlah. Tapi sejak seminggu lalu bapak tak pernah pulang.
Ritualku ini sudah empat kali gagal. Setelah dua
hari kehilangan bapak, baru aku memanggilnya dalam hati. Tapi bapak belum juga
datang. Dulu biasanya tiap habis isya aku melakukan ritual itu tak lama bapak
datang. Mengacak rambutku dan menyapa singkat
“Wes shalat, Lek?”
Aku rindu menjawab itu. Rindu sekali.
Ibu tidak pernah menjelaskan kemana bapak. Ibu juga
tidak tahu.
“Bu, bapak kok belum pulang?” tanyaku dengan mata
dalam mencecar mulut ibu yang akan menjawab.
“Mestinya sudah. Sabar yo lek, nanti juga pulang,”
jawab ibu santai. Matanya menolak melihatku.
Aku tidak bisa tidur. Belum juga bisa lelap. Aku
rindu bapak.
Apakah bapak sedang bekerja di kota demi
membelikanku layang koang warna-warni yang berbuntut super panjang atau bapak
membeli pabrik lilin biar rumah tidak lagi remang. Jadi kami tidak perlu
memakai listrik curian.
Bapak.. bapak..
bapak..
Mataku mulai berat.
Bapak
Ada semilir angin meniup dahiku. Ah aku selalu suka
angin ini.
Bapak
Kelopak mata menyerah. Mereka menunduk. Mata
melekat. Erat.
Bapak
Tanah pijakanku nyaman sekali. Aku tidak kedinginan
tidak juga kepanasan. Mungkin aku mulai tidur. Syukurlah. Perutku juga tidak
sakit lagi.
Bapak
Bapak datang menenteng helm karatnya, tangan satunya
membawa layangan besar. Bapak tersenyum.
Bapak
Aku mendekati bapak. Bapak wangi sekali.
Bapak
Bapak menggandengku, kencang. Membawaku ke luar
rumah. Aku baru ingat, pak tunggu ada ibu
dan Atika. Aku bergegas mencari ibu tapi bapak menarikku kencang. Matanya
menyipit. Bapak menggeleng. Hampir padam.
Ayo lekas, nduk. Ah aku rindu sekali bapak. Aku ikuti bapak. Kami berjalan
lembut, pada pijakan yang tidak aku kenali. Semakin jauh. Jauh. Aku lihat lilin
di rumah meredup. Gelap. Padam.
**
---Ibu
BAPAK!!!!!
Darahku turun naik tak karuan. Ingin rasanya
langsung hilang dan mengecil sekecil semut. Biar bebanku tak terlampau besar.
Biar dukaku tak terlampau menyiksa. Biar sedihku tak terlalu berlebihan.
Bapak anak-anak belum juga pulang.
Ini sudah seminggu. Syafrudin juga tak tahu kemana.
Orang-orang kampung sudah membantu mencari, ke mana saja.
Atika aku peluk erat. Cuma ASI dan pelukan yang bisa
aku berikan padanya.
Lilin masih ada, setidaknya cukup untuk menerangi
sedikit ruang yang kami punya di dunia kejam ini. biasanya syafrudin tidur di sampingku. Sekarang aku
tidak tahu ada dimana. Menghilang saja. Aku ingin bunuh diri. Ingin sekali. Tapi
ada Atika. Sialan, bapak main curang.
Dia hilang begitu saja.
Mungkin mati. Tambah sial! Kenapa
dia tinggalkan aku.
Anakku, kamu dimana?
Lilin di samping kami tinggal
redup saja. Hitung saja sampai sepuluh, ia pasti mati tepat setelah hitungan sepuluh.
Ini mimpi atau apa. Tapi aku
melihat, mataku terbuka. Ada atika.
Aku pasrahkan saja. Aku tarik
nafas... pelan-pelan bayangan datang. Aku hitung satu, dua, tiga, empat, lima, enam... bayangan dua tahun
lalu:
Orang
kampung berbaju hitam-hitam. Membawa keranda hijau, di dalamnya ada tubuh
bapak. Meninggal kecelakaan. Aku meraung-raung. Membawa atika. Menggendong gadis
kecilku.
Tujuh, delapan:
Bayangan
mengembun. Pandanganku lebih menyedihkan, aku lihat syafrudin tergeletak
berbusa. Lilin-lilin habis dibakar dan dijilatinya. Atika tak bergerak ia diam
saja di ayunan. Syafrudin, anakku... anak lelakiku satu-satunya, mati
keracunan.
Sembilan:
Aku menarik nafas, entah ada di
dimensi yang mana. Aku tidak merasakan tubuh hangat atika. Tidak ada apa-apa,
tidak ada siapa-siapa. Aku tidak tahu mataku terbuka atau tidak, semua gelap.
Lilin sudah remang sekali.
Sepuluh:
PADAM
WINAN
2013
Di tulis pada waktu yang begitu absurd dan diyakini
sebagai hal menyenangkan. Menyadari kehilangan, kedatangan, keterputusan, dan
perjuangan.

Comments
Post a Comment