Skip to main content

Harpa Biru Kimi


A
nalogi berputar-putar dalam lingkaran di atas kepala. Hei,tetapi si empunya kepala itu bukan malaikat, dan ini bukan kartun. Entah apa namanya. Batasan pandangan padaku lebih putih dari tampilan yang mengisinya. Semacam efek bloom dalam Photoscape. Tubuh itu duduk santai di atas kursi kuningan bergaya konservatif khas Eropa. Matanya terpejam, tapi bibir merahnya tersenyum. Indah.

Satu kakinya menjuntai ke bawah, bersilang dengan pasangannya yang lurus simetris dengan kursi tadi. Tangan putihnya memegang alat yang lebih kuning dibanding bangku yang dipantatinya. Tinggi benda itu tak melebihi dagunya. Ya, aku pernah melihat orang yang memainkannya di sebuah orchestra kesukaanku. Tapi telinga, mata dan dadaku lebih takjub melihat ia dimainkan olehnya. British Orchestra tak sebanding sama sekali dengan pertunjukkan maha dasyat ini.

Jemarinya langsing dan runcing. Ujung-ujungnya bersinar kekuning-kuningan. Seluruh tepi badannya seperti dilapisi border cahaya. Ataukah ini yang mereka sebut aura? Entah-lah. Aku tak mau tahu apa definisi atau namanya. Lebih penting bagiku memahai apa yang ditimbulkan, bagaimana ia bekerja. Ya.. gerakan jari manis, jari tengah dan telunjuk sudah terdengar begitu harmonis untukku.

Hingga, adrenalinku tiba-tiba melesat berpacu pada buruan nafas. Kulit jarinya hampir menyentuh dawai-dawai benda berbentuk huruf D itu.

Drrrrrreeengg……

Mataku kunang-kunang. Apakah ini efek dissolve? Hingga kepala ini merelakan diri terjatuh. Segumpal kebahagian menelusip lewat pori-pori telinga, dan menjalar merasuki butiran darah dalam daging. Bermuara di jantung. dan aku kembali memerintahkan kelopak mata mengangkat bulu-bulu lentik di bawahnya.

Aku melihat dua bola mata di depanku, dan perlahan menjauh, terlihat sejengkal wajahnya. Mata kanannya biru, sebiru laut dangkal di Bunaken. Aku melihat hal-hal lebih dalam, ia menuntunku pada rangkaian kegiatanku dalam satu waktu. Aku tertidur, aku melihat pintu hijau kamarku. Aku di dalamnya. Tertidur memeluk guling seperti biasanya. Lalu wanita pijar itu agak berlari, gaun satinnya mengibas di lantai, langsung bergerak ke dalam ruang keluarga, tempat ibu duduk dan menunduk. Kenapa ibu ada disana? Wanita pijar itu berdiri setengah terbang di sampingnya. Sangat jelas sakarang ia memancarkan warna kebiruan. Ia mengangguk, seolah kami sudah berkompromi. Aku medekati ibu. Bisa kulihat tangan coklatku berjarak  sedepa dengan kepalanya.

Tanganku terus mendekat. Gerakan begitu halus dan lembut, tapi cahaya di ruangan itu seperti berembun. Tak jelas, agak blur. Aku hampir menyentuh kepala ibu, dan seperti tersetrum aliran ketika tanganku basah dan menyentuh saklar kamar. Tanganku, jari-jariku, pergelangan tangan menembus melewati tujuanku, kepala ibu. Oh tidak, apa yang terjadi, ini begitu menakutkan. Wanita pijar itu terbang mendekatiku. Memegang pergelangan tangan, dan aku semakin tinggi meninggalkan ibu.

Aku melihat  juntaian kain bening polos yang koyak digoyangkan angin. Itu gaunku, aku memakai gaun?

Wanita pijar itu bernyanyi:

Lihat harpa menelan waktu di dada
Kau mendengar detik jaman meninggalkanmu
Kau padaku saat ini
Tak kembali pada kesemuan
Tetap padaku,
Hai penikmat bias

Wanita pijar menyanyi, terus bernyanyi hingga atap langit, semakin gelap menuju titik yang semakin terang. Aku terpejam, semua sama saja, aku masih tetap melihat lampu-lampu kota, lalu pulau, dan benua, hingga bumi seperti pantat yang bercelah di pinggir bawah. Aku lamat-lamat menelan bau ruang. Aku bahagia, tertawa, dan bernyanyi bersama wanita pijar.

Ku mendengar detik jaman meninggalkanmu
Ku padamu saat ini
Tetap padamu

**

Ibu bangun dari tidurnya di ruang keluarga, setelah kelelahan menangis dan memikirkan anak gadisnya, Kimi. Pertengkaran semalam cukup menggeparkan rumah. Ia tetap tak ingin gadisnya melupakan Biru, teman satu kampus Kimi yang jago main harpa. Biru meninggal karena kecelakaan dua hari lalu. Kimi mengurung diri, dan ibunya mendapati foto Kimi dan Biru, momen saat bibir keduannya bersatu.
Tergopoh-gopoh Wanita paruh baya itu membuka pintu hijau,  dan Kimi terlentang, terpejam dengan mulut menganga penuh busa.*

18 Desember 2011

Comments