Pernah suatu ketika. Malam tiba,
suami-suami pulang ke rumahnya. Istri-istri mengelap bersih keringatnya.
Anak-anak remaja mulai ke luar malam, dan seorang mudi tengah berjalan lurus
sambil berderai—air mata. Di sepanjang jalan rumah seorang teman, jejaknya
beku, angin malam masih tercium. Batari mengetuk pintu gompal temannya. Kata-katanya
lemah. Temannya pasti bingung, pada saat itu Batari tidak mengucapkan apa-apa.
Wajahnya pucat, nampak air muka yang dingin disambut air asin dan tak lagi malu
pamer kehadirannya. Dia ingin menahannya tapi organ tubuhnya belum sekuat
hatinya. Terkutuklah para penjahat rasa. “Sungguh akanku bunuh labirin itu,” Batari
membenci ingus-ingus yang keluar tak beraturan. Terlebih ia sangat bosan
memaafkan. Batari pun terlelap. Seketika aku pun lenyap.
PADAM --Syafrudin RUMAH masih remang, tinggal bayangan ringkih dan muram kecoklatan di dinding rotan berkelir rembesan hujan. Bapak sudah tidak pernah pulang barang semalam. Untunglah masih ada sisa lilin kemarin. Ibu tidur menyusui Atika, adik bungsuku. Tinggallah aku mengganti tugas bapak. Menjaga ibu dan adik dari serangan nyamuk sawah yang tak pernah kehilangan akal memborbardir tubuh kering kami. Sebenarnya, kami tipe manusia kebal. Kebal pada gigitan nyamuk sawah yang umumnya dua kali lebih besar dibanding nyamuk rumahan. Tapi aku tak tega melihat esok paginya tubuh adik kecil dan ibu merah dan menyisakan koreng-koreng kecil. Luka yang tak sadar dibuat ketika tidur. Seperti seorang bijak bilang—garuklah gatalmu sendiri. Keluargaku menjalani diktum itu. Air panas lilin jatuh pelan-pelan. Dengan telunjukku, aku senang sekali merasakan panas cairan lilin. Panas yang bersahabat, tak lama ia akan mengering. Melapisi kulit tanganku. Lalu aku membersihkan dan mengupasnya,...
Comments
Post a Comment