Skip to main content

"Why Am I The One" by FUN


I got enough on my mind
That when she pulls me by the hair,
She hasn't much to hold onto.
She keeping count on her hand:
One, two, three days that I've been sleeping on my side.

I finish kissing my death,
So now I head back up the steps
Thinking about where I've been.
I mean the sun was never like this.

I wanna feel with the seasons.
I guess it makes sense.
'Cause my life's become as vapid as
A night out in Los Angeles,
And I just wanna stay in bed

and hold you like I used to.
You know that I am home.
So, darling, if you love me,
Would you let me know?

Or go on, go on, go on, if you were thinking that the worst is yet to come
Why am I the one always packing up my stuff?
For once, for once, for once I get the feeling that I'm right where I belong.
Why am I the one always packing up my stuff?

She got enough on her mind
That she feel no sorrow.
I let my fate fill the air,
So now she rolling down the window.
Never been one to hold on
But I need a last breath.
So I ask if she remembers when
She used to come and visit me.
We were fools to think that nothing could go wrong.

Go on, go on, go on, if you were thinking that the worst is yet to come
Why am I the one always packing up my stuff?
For once, for once, for once I get the feeling that I'm right where I belong
Why am I the one always packing up my stuff?

I think I kinda like it but I might have had too much.

I'll move back down
To this western town.
When they find me out,
Make no mistake about it.

I'll move back down
To this western town.
When they find me out,
Make no mistake about it.

I'll move back down
To this western town.

Go on, go on, go on, if you were thinking that the worst is yet to come
Why am I the one always packing up my stuff?

Go on, go on, go on, if you were thinking that the worst is yet to come
Why am I the one always packing up my stuff?
For once, for once, for once I get the feeling that I'm right where I belong
Why am I the one always packing up my stuff?

I think I kinda like it but I might have had too much.
I'll move back down...

Comments

Popular posts from this blog

PADAM --Syafrudin RUMAH masih remang, tinggal bayangan ringkih dan muram kecoklatan di dinding rotan berkelir rembesan hujan. Bapak sudah tidak pernah pulang barang semalam. Untunglah masih ada sisa lilin kemarin. Ibu tidur menyusui Atika, adik bungsuku. Tinggallah aku mengganti tugas bapak. Menjaga ibu dan adik dari serangan nyamuk sawah yang tak pernah kehilangan akal memborbardir tubuh kering kami. Sebenarnya, kami tipe manusia kebal. Kebal pada gigitan nyamuk sawah yang umumnya dua kali lebih besar dibanding nyamuk rumahan. Tapi aku tak tega melihat esok paginya tubuh adik kecil dan ibu merah dan menyisakan koreng-koreng kecil. Luka yang tak sadar dibuat ketika tidur. Seperti seorang bijak bilang—garuklah gatalmu sendiri. Keluargaku menjalani diktum itu. Air panas lilin jatuh pelan-pelan. Dengan telunjukku, aku senang sekali merasakan panas cairan lilin. Panas yang bersahabat, tak lama ia akan mengering. Melapisi kulit tanganku. Lalu aku membersihkan dan mengupasnya,...

(Saya dan) Mother Theresa

jika kamu baca judul ini, mungkin kamu anggap saya kurang sopan karena berani mencantumkan diri (ke-aku-an) saya dengan sosok yang luar biasa gemilang. saya hanya gatal ingin bercerita soal apa yang berkelindan di kepala saya. lagipula, sangat mengkultuskan seseorang bukankah tidak terlalu berlebihan. lagipula beliau juga manusia biasa. saya mencoba berusaha melihatnya lebih dekat. tanpa jarak. Saya ingat di buku terakhir yang saya baca tentang SQ, mother Theresa berkata: Orang kerap kali tak bernalar, tak logis, dan egois. Biar begitu, maafkanlah mereka. Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif yang egois. Biar begitu, tetaplah bersikap baik. Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati. Biar begitu, tetaplah meraih sukses. Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu. Biar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang Apa yang engkau bangun selama bertahu...

Pernah

Pernah suatu ketika. Malam tiba, suami-suami pulang ke rumahnya. Istri-istri mengelap bersih keringatnya. Anak-anak remaja mulai ke luar malam, dan seorang mudi tengah berjalan lurus sambil berderai—air mata. Di sepanjang jalan rumah seorang teman, jejaknya beku, angin malam masih tercium. Batari mengetuk pintu gompal temannya. Kata-katanya lemah. Temannya pasti bingung, pada saat itu Batari tidak mengucapkan apa-apa. Wajahnya pucat, nampak air muka yang dingin disambut air asin dan tak lagi malu pamer kehadirannya. Dia ingin menahannya tapi organ tubuhnya belum sekuat hatinya. Terkutuklah para penjahat rasa.  “Sungguh akanku bunuh labirin itu,” Batari membenci ingus-ingus yang keluar tak beraturan. Terlebih ia sangat bosan memaafkan. Batari pun terlelap. Seketika aku pun lenyap.