jika kamu baca judul ini, mungkin kamu anggap saya kurang sopan karena berani mencantumkan diri (ke-aku-an) saya dengan sosok yang luar biasa gemilang. saya hanya gatal ingin bercerita soal apa yang berkelindan di kepala saya. lagipula, sangat mengkultuskan seseorang bukankah tidak terlalu berlebihan. lagipula beliau juga manusia biasa. saya mencoba berusaha melihatnya lebih dekat. tanpa jarak.
Saya ingat di buku terakhir
yang saya baca tentang SQ, mother Theresa berkata:
Orang
kerap kali tak bernalar, tak logis, dan egois.
Biar begitu, maafkanlah
mereka.
Bila
engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif yang egois.
Biar begitu, tetaplah
bersikap baik.
Bila
engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat teman-teman palsu dan
musuh-musuh sejati.
Biar begitu, tetaplah meraih
sukses.
Bila
engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu.
Biar begitu, tetaplah jujur
dan berterus terang
Apa
yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan seseorang
dalam semalam.
Biar begitu, tetaplah
membangun.
Bila
engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri.
Biar begitu tetaplah
berbahagia.
Kebaikan
yang engkau lakukan hari ini, sering bakal dilupakan orang keesokan harinya.
Biar begitu, tetaplah
lakukan kebaikan.
Berikan
pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup.
Biar begitu tetaplah berikan
pada dunia milikmu yang terbaik.
Perasaan ini mungkin juga berlaku pada banyak orang. Ya.
Seorang teman pernah bertanya. Katanya:
Belakangan
ini teman-teman banyak yang mendatangi saya. Curhat soal masalahnya. Saya
dengarkan dan coba membantu mencari solusi. Hmm, kalau saya yang susah mereka
ada gak ya?
Mendengar itu saya
tersenyum. Saat itu kalau tidak saya merespon:
Hahaha,
kok ngomong begitu. Soal nanti dia bagaimana, biarkan saja. Kita punya Tuhan,
kan.
Ya, saya bukan sok bijak.
Tapi saya merasa, soal bagaimana orang itu nanti, bukanlah urusan saya. Urusan
saya sekarang adalah membantu apa yang saya bisa. Melakukan apa yang seharusnya
saya lakukan. Atau dengan sombongnya sih begini:
Kalau
memang setelah berbuat baik kita ditinggal. Biarkan saja. Kenapa berpikiran
begitu lemah. Kita kuat kok. Emang dia pikir dia siapa.
Lalu, mendadak otak saya
me-rewind kejadian lalu.
Benar ya, seringkali memang
mudah mendikte, tapi jika itu terjadi pada diri sendiri kita akan jadi amnesia
atas jawaban yang sebenarnya selalu kita ketahui.
Pernah, saya menemani
seorang kawan yang sakit. Setelah itu kami tidak banyak berkabar, hingga tiba
saat saya membutuhkannya. Tapi ia tidak merespon sesuai apa yang saya pikirkan.
Saat itu saya kecewa dan berpikir, saya
cukup akan membuat perhitungan dengannya. Dengan kata lain saya akan tidak
begitu dekat seperti dahulu. Orang baik tidak berarti bodoh kan?
Tapi saya menyesal. Saya tak
pernah bisa benar-benar menjadi kalkulatif begitu. Saat teman saya itu datang
lagi, dada saya tak kuasa bergetar. Saya tetap menyemangatinya padahal mulut
saya yang lalu begitu menolaknya. Saya seperti makan ludah basi saya sendiri.
Anehnya, saya merasa bahagia. Saya mendoakan dia akan baik-baik saja. Apapun
yang dia lakukan pada saya, saya hanya akan melakukan apa yang jadi urusan
saya, yaitu berbuat baik padanya. Urusan dia ke pada saya, itu urusan dia
dengan tuhannya, bukanJ
Mari! berlapanglah...
Comments
Post a Comment