Skip to main content

(Saya dan) Mother Theresa

jika kamu baca judul ini, mungkin kamu anggap saya kurang sopan karena berani mencantumkan diri (ke-aku-an) saya dengan sosok yang luar biasa gemilang. saya hanya gatal ingin bercerita soal apa yang berkelindan di kepala saya. lagipula, sangat mengkultuskan seseorang bukankah tidak terlalu berlebihan. lagipula beliau juga manusia biasa. saya mencoba berusaha melihatnya lebih dekat. tanpa jarak.

Saya ingat di buku terakhir yang saya baca tentang SQ, mother Theresa berkata:

Orang kerap kali tak bernalar, tak logis, dan egois.
Biar begitu, maafkanlah mereka.

Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif yang egois.
Biar begitu, tetaplah bersikap baik.

Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati.
Biar begitu, tetaplah meraih sukses.

Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu.
Biar begitu, tetaplah jujur dan berterus terang

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam.
Biar begitu, tetaplah membangun.

Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri.
Biar begitu tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, sering bakal dilupakan orang keesokan harinya.
Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan.

Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup.
Biar begitu tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik.
    
Perasaan ini mungkin juga berlaku pada banyak orang. Ya. Seorang teman pernah bertanya. Katanya:
Belakangan ini teman-teman banyak yang mendatangi saya. Curhat soal masalahnya. Saya dengarkan dan coba membantu mencari solusi. Hmm, kalau saya yang susah mereka ada gak ya?

Mendengar itu saya tersenyum. Saat itu kalau tidak saya merespon:
Hahaha, kok ngomong begitu. Soal nanti dia bagaimana, biarkan saja. Kita punya Tuhan, kan.

Ya, saya bukan sok bijak. Tapi saya merasa, soal bagaimana orang itu nanti, bukanlah urusan saya. Urusan saya sekarang adalah membantu apa yang saya bisa. Melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Atau dengan sombongnya sih begini:
Kalau memang setelah berbuat baik kita ditinggal. Biarkan saja. Kenapa berpikiran begitu lemah. Kita kuat kok. Emang dia pikir dia siapa.

Lalu, mendadak otak saya me-rewind kejadian lalu.

Benar ya, seringkali memang mudah mendikte, tapi jika itu terjadi pada diri sendiri kita akan jadi amnesia atas jawaban yang sebenarnya selalu kita ketahui.

Pernah, saya menemani seorang kawan yang sakit. Setelah itu kami tidak banyak berkabar, hingga tiba saat saya membutuhkannya. Tapi ia tidak merespon sesuai apa yang saya pikirkan. Saat itu saya kecewa dan berpikir, saya cukup akan membuat perhitungan dengannya. Dengan kata lain saya akan tidak begitu dekat seperti dahulu. Orang baik tidak berarti bodoh kan?

Tapi saya menyesal. Saya tak pernah bisa benar-benar menjadi kalkulatif begitu. Saat teman saya itu datang lagi, dada saya tak kuasa bergetar. Saya tetap menyemangatinya padahal mulut saya yang lalu begitu menolaknya. Saya seperti makan ludah basi saya sendiri. Anehnya, saya merasa bahagia. Saya mendoakan dia akan baik-baik saja. Apapun yang dia lakukan pada saya, saya hanya akan melakukan apa yang jadi urusan saya, yaitu berbuat baik padanya. Urusan dia ke pada saya, itu urusan dia dengan tuhannya, bukanJ


Mari! berlapanglah...

Comments

Popular posts from this blog

PADAM --Syafrudin RUMAH masih remang, tinggal bayangan ringkih dan muram kecoklatan di dinding rotan berkelir rembesan hujan. Bapak sudah tidak pernah pulang barang semalam. Untunglah masih ada sisa lilin kemarin. Ibu tidur menyusui Atika, adik bungsuku. Tinggallah aku mengganti tugas bapak. Menjaga ibu dan adik dari serangan nyamuk sawah yang tak pernah kehilangan akal memborbardir tubuh kering kami. Sebenarnya, kami tipe manusia kebal. Kebal pada gigitan nyamuk sawah yang umumnya dua kali lebih besar dibanding nyamuk rumahan. Tapi aku tak tega melihat esok paginya tubuh adik kecil dan ibu merah dan menyisakan koreng-koreng kecil. Luka yang tak sadar dibuat ketika tidur. Seperti seorang bijak bilang—garuklah gatalmu sendiri. Keluargaku menjalani diktum itu. Air panas lilin jatuh pelan-pelan. Dengan telunjukku, aku senang sekali merasakan panas cairan lilin. Panas yang bersahabat, tak lama ia akan mengering. Melapisi kulit tanganku. Lalu aku membersihkan dan mengupasnya,...

Pernah

Pernah suatu ketika. Malam tiba, suami-suami pulang ke rumahnya. Istri-istri mengelap bersih keringatnya. Anak-anak remaja mulai ke luar malam, dan seorang mudi tengah berjalan lurus sambil berderai—air mata. Di sepanjang jalan rumah seorang teman, jejaknya beku, angin malam masih tercium. Batari mengetuk pintu gompal temannya. Kata-katanya lemah. Temannya pasti bingung, pada saat itu Batari tidak mengucapkan apa-apa. Wajahnya pucat, nampak air muka yang dingin disambut air asin dan tak lagi malu pamer kehadirannya. Dia ingin menahannya tapi organ tubuhnya belum sekuat hatinya. Terkutuklah para penjahat rasa.  “Sungguh akanku bunuh labirin itu,” Batari membenci ingus-ingus yang keluar tak beraturan. Terlebih ia sangat bosan memaafkan. Batari pun terlelap. Seketika aku pun lenyap.