Hari itu kisruh dengan debu
dan pasir proyek jalan tol baru. Terinspirasi oleh realitas kekinian. Tak bisa
dihindari, apa lagi dilipat dan dibawa pulang. Kau tak akan senang.
aku
terpejam—Mayang, akhirnya datang—juga.
Debu
jalan raya masih menempel di wajah Mayang. Tas punggung ia taruh di bangku
kayu, tempatnya biasa duduk dan menulis. Rok putihnya tak berwarna seperti
sewajarnya. Seperti biasa bagian belakang rok sepanjang dengkul itu dibubuhinya
warna yang lebih gelap. Coklat, bekas tanah atau apa pun itu yang menjadi alas
duduknya. Ia memang agak malas untuk berdiri lama. Bukan karena ia lelah, tapi
ia hanya muak pada formalitas. Yang semu, dan dangkal.
Senin,
bukanlah hari yang menyenangkan bagi Mayang Ugandi. Duduk di bangku sebelas
sekolah menengah atas di bilangan Kedoya, Ia diam-diam mengumpat di balik
kemaskulianannya sebagai perempuan. Tiap bel senin pagi berbunyi, spontan
pikirannya menyerukan aliran darah hingga sirkulasi pernafasannya untuk tetap
tenang, itu berarti ia akan kembali beringasan mengomel dalam hatinya.
Dasi
panjang mulai ia kaitkan, hingga membentuk simpul piramida terbalik. Ya lumayan
rapi.
Ia
sampai pada lapangan yang gompal, seperti permukaan gundu yang bopeng. Beruntung,
Tuhan memberinya bentuk badan yang lumayan ideal untuk ikut kontes kecantikan.
Dengan landai, ia berjalan santai menutup barisan wanita di belakang.
Di
sampingnya, Asrul, lelaki ceking yang gemar main dota ini masih serius mengucek
matanya. Berkali-kali. Sedangkan, yono yang pelontos, sibuk menekan tombol
telepon genggamnya.
Mayang
melihat ke sebelah kanannya. Kelas sebelas IPA satu, kompak mengenakan topi.
Berbeda dengan barisan kelasnya. Tepat di hadapannya, Sari tak henti-hentinya
memutar-mutar ujung rambutnya. Sesekali mengabsen helaian ujung rambut yang
bercabang.
“Jelas saja, rambut kering
begitu dicat, merah menyala pula,” Mayang komplain dalam hati.
Pemandangan
bisa, untuk mendengar wireless tua yang sudah ‘serak’ digunakan Pak
Magrib, sang kepala sekolah. Sosok tua ini, seolah menjadi patung selamat
datang. Ada, tapi tak seberapa diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya. Sering
gelak tawa sesumbar keluar dari mulut Mayang. Karena kadang, seberapapun ia
berusaha untuk fokus mengerti apa yang sedang dikobarkan kepala sekolah, ia selalu kalah dengan imajinasinya.
Tiang
bendera di tengah lapangan, di samping podium tempat Pak Magrib berdiri,
ia seperti sedang menontong wayang di
Sriwedari, Solo. Tubuhnya yang kering, dengan gesture tangan yang patah-patah,
persis seperti sebuah mainan kertas yang dikendalikan oleh dalang di bawahnya.
Sekolah
di pinggiran Jakarta itu berjalan dengan aktifitas seperti biasanya. Pohon
mangga sekolah gugur. Angin kering memutar potongan kertas di pinggir lapangan.
Dan seketika, mic tua itu jatuh. Pak magrib batuk sedalam-dalamnya.
Merah segar tumpah pada podium lelah. Magrib jatuh. Orang-orang teriak. dan
mata Mayang terbelalak.
”Ayah.....!!” Mayang bangkit di atas
kasur.
Jarum
jam berdetak. Hawa kamar pahit seperti biasa. Mayang melihat kamar orang
tuanya.
Ayah
belum pulang juga...
***

Comments
Post a Comment