11 September 2005
Hai!
Kamu berdiri agak lemas di tepi kelas. Rambutmu basah oleh basuhan air mushola. Kamu seperti biasanya, menyenangkan untuk dipandangi—diam-diam. Ada sisa air wudhu di alis matamu. Dan kamu lagi-lagi, tampan dengan wajah teduh itu.
Aku masih melipat baju olahraga. Sembari menemukan puluhan jawaban mengapa kau pantas untuk dikagumi. Aku merasa sangat jenius saat itu. Aku suka suaramu saat kamu bilang “hadir, bu”. Cuma kamu yang punya intonasi dan ketukan khas.
Aku suka caramu menyebut erl. Aku suka cedalmu. Aku suka caramu melempar bola basket. Aku suka saat kamu melempar kertas-kertas kecil ke arahku. Aku akan pura-pura marah dan belagak menjauhimu. Aku ingin tahu reaksimu.
Kamu akan semakin menjahiliku jika aku cemberut. Lalu kamu menjepit hidungku yang bulat dan mengatakan “dasar gendut!”.
Arya. Aku suka kamu.
Kalimat itu terjegal sampai di kerongkonganku saja.
Dan akhirnya menjadi batuk yang berbentuk puisi-puisi dan surat-surat rahasiaku.
Untukmu. Mulutku tak kuasa mengucapkan itu. Rasa yang tak pernah diucapkan. Aku merasa begitu telanjang untuk jadi sejujur itu. Aku tidak bermaksud membohongimu. Sungguh. Biar aku menjalani senda gurau hangat yang membuatku jatuh cinta padamu. Menikmati satu sobekan roti dengan selai srikaya buatan tantemu.
Aku tahu, Tania juga menyukaimu. Hmm... aku lebih memilih menelan rasa ini. sial. Aku jauh lebih menyukaimu ketimbang serial Korea atau kutek biru dari ibu. Kamu membuatku rela minum puyer asal pusingku pergi dan bisa bersekolah besok.
Kamu bendahara kelas. Aku bukan siapa-siapa. Kamu sepuluh besar. Aku urutan duapuluhan. Kamu fasih berbahasa asing. Aku bahkan gagap mengucap “introduce”. Kamu punya banyak teman. Aku pemurung, aku punya guaku sendiri. Kamu selalu aktif memenangi banyak perlombaan. Sedang aku masih belajar mengikat tali sepatu. Aku underdog di banyak hal, bukan saja di akademis tapi juga pergaulan. Rahasiaku ini adalah satu-satunya kuasaku. Aku merasa yang paling jenius dan ahli di bidang ini.
Bagaimanapun, Aku tahu diri. Kamu, terlalu baik. Aku pernah membaca tulisan yang membuat hatiku berdesir.
Mungkin beberapa jenis cinta ditakdirkan untuk tak berakhir pada muaranya. Ia hanya perlu ada, begitu saja, tak meminta aoa-apa lagi. Aku lebih bahagia mengandaikanmu dari jauh—dengan semacam perasaan yang tak perlu penjelasan-penjelasan.
....
Izinkan aku menikmati ini, Arya. Sendirian
**
24 Mei 2007
Kamu membenamkan kepalamu di atas mejamu. Mencium pergelangan tangan yang sengaja kamu lingkarkan di hadapanmu. Kamu sakit. Aku tahu itu sejak kau masuk kelas pagi tadi. Aku ingin menyapamu, tapi seperti biasa itu hal yang muskil. Obi pasti akan menghajarmu jika aku lakukan itu. Aku cuma bisa pura-pura tertawa pada komedi Obi yang sebenarnya tak pernah aku sukai.
Hari itu aku sengaja meninggalkan saputanganku, agar aku punya alasan untuk kembali ke kelas dan tentu saja agar aku bisa melihatmu. Aku tak berani mengakui atau memperjelas perasaan apa yang sedang bertamu dalam tubuhku. Seolah semua organ di dalamnya bersekongkol untuk membuat getaran-getaran yang semestinya tak perlu. Bahkan berlebihan.
Aku tidak suka menyerahkan sebahagian ketentramanku pada orang lain. Tapi ketika aku sadar ada yang tidak beres pada otak dan dadaku, aku mulai membetengi hati dan pikiranku.
Kamu tidak boleh seenaknya berkelindan di
dalam sini. Ini pekaranganku! Aku lebih menghindarimu meski hatiku terasa
nyeri. Seperti biasanya aku bersedih, ujung kelingking kiriku pasti terasa
sakit. Seperti kesemutan dan rasanya lebih mirip seperti dicubit. Ini seperti
kutukan. Setiap aku berpaling dan pura-pura tidak melihatmu, melewatkanmu, menolak
senyummu, merendahkan suaraku ketika aku harus menyebutmu, kelingkingku
mendadak nyeri. Sensor patah hati menyala. Tidak menyalak.
Aku hampir gila. Sejak kapan jadi begitu lemah, menyerah pada keadaan bahwa ada sesorang yang ‘berkuasa’ atasku. Belum pernah aku menyukai manusia lain selain diriku sendiri. Usahaku ini berhasil—anggap saja begitu—untuk satu bulan. Selebihnya aku muram. Seolah hatiku sudah terlalu renta. Terlalu banyak yang mengendap. Akhirnya, aku mulai menuntut doa dan berharap. Menyertaimu dalam doa-doaku. Pagi, siang, sore, petang, dan malam. Bahkan saat dini hari. Aku meminta ketenangan untukmu agar aku pun begitu.
Ada amarah yang merayap ketika melihat kau diteriaki banci oleh teman-teman. Kamu spesial tapi mereka tidak bisa melihat itu. Kamu seperti mimpi yang nyaris aku lupakan. Kamu datang setelah dua tahun aku menunggu perubahan.
Di sini.
Di langit berdebu dan matahari tak tampak ramah.
Di dataran dimana hujan masih mencari maknanya. Kamu
datang. Kamu lahir.
Kamu seperti membangun Madinah untukku. Aku ingin berhijrah ke hatimu. Tapi pantaskah aku. Aku sudah mual dengan cacian. Aku muak dengan pukulan. Aku bosan pada ketololanku selama ini. Bantu aku, Darma. Ah, maafkan aku karena menarikmu dalam pintaku pada Tuhan. Tapi bukankah nabi pun menyuruh kita meminta apapun kepadaNya. Dia baik bukan, maha baik, bahkan.
Biarlah kamu menjadi ultimatum untukku dan atasNya. Bantu aku keluar dari lubang hitam tawuran dan jalan keluar yang salah. Aku ingin belajar berjalan lurus, tertawa tak terlalu terbahak-bahak. Menghilangkan kosa kata binatang dan kotoran yang aku hafal luar kepala. Aku tak ingin merusak keindahanmu semisal kita bisa bersama, entah sebagai apapun itu.
Darma, jadilah temanku. Aku bicara tanpa suara. Di belakangmu. Melihatmu lewat ujung mataku. Lalu kepalamu mulai kamu tegakkan. Kamu bangun. Ah, mujarab sekali doaku tadi. Seolah ia mendengar ujaranku. Ajaib sekali momen ini. Aku salah tingkah, berlagak sibuk mengacak-acak buku di laci untuk memastikan misiku ini tak terbongkar. Semoga kamu tidak melihatku. Aku membelakangimu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat di pundakku.
“Bening, Kamu mau keluar ya?” Darma tegak di hadapanku.
......
Duniaku berhenti. Aku mengatur raut wajahku agar terlihat sedatar mungkin. Katanya laki-laki lebih tertarik pada wanita judes, kan?
“Tentu,” kata pertama yang mengantarkanku pada hubungan kita. Tautan yang membawaku saat ini, menjadi pasanganmu di pelaminan ini. Selamanya, ini akan menjadi rahasiaku. Ops. Atau mungkin akan aku bongkar cerita soal cinta sepihak ini pada anak pertama kita nanti. Begitulah Darma bagaimana aku berjuang dan akhirnya menyerah sekaligus menyerahkan perasaanku. Aku tuan bagi hasrat dan segala keinginanku, dan Tuhanku. Dia selalu keren. Percayalah sayang, Dia selalu mengabulkan doa-doa kita. Tahu diri-ku, mengantarkanku pada senyum simpul saat ini. Terima kasih untuk mengajariku berdoa.
Wanita
yang berbahagia
Bening
Batari

Comments
Post a Comment